Konservasi Pohon Raksasa Asal Afrika di Kampus UI Depok
[D-News] | Dec 14, 2010 | Komentar Anda
Lupakan istilah ilmiah pohon raksasa yang cukup sulit diingat dan kurang populer didengar itu. Warga Kabupaten Subang, Jawa Barat, punya sebutan yang lebih akrab, yakni Ki Tamblek.
Ukurannya besar. Diameternya saja empat meter lebih. Untuk memeluknya utuh, butuh 16 orang. Tingginya menjulang sampai 20 meter lebih.
Sebutan Ki Tamblek, karena pohon itu identik dengan sesuatu yang mistis dan menyeramkan.
Dari berbagai studi ilmiah, pohon ini memberikan manfaat luar biasa. Daunnya lezat untuk lalapan. Mirip daun kemangi yang biasa digunakan makan pecel lele. Buahnya juga lezat menyerupai cempedak.
Kandungan vitamin C-nya enam kali lebih banyak dari jeruk. Potassium enam kali lebih banyak dari pisang, kalsiumnya dua kali lebih tinggi dari susu. Begitu pula zat besi, antioksidan dan magnesiumnya sangat banyak.
Namun di pedalaman Subang, pohon raksasa ini hanya sebagai pohon keramat. “Kita inginkan pohon ini menjadi magnet baru. Kampus UI tak hanya dikenal sebagai kampus riset. Tapi juga kampus yang melakukan konservasi pohon tua,” ungkap Rektor UI, Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri.
Nantinya, sambung dia, terdapat 10 batang pohon sejenis di kampus ini. Semuanya ditanam di sekitar kantor rektorat dan gedung perpustakaan UI. Langkah itu diambil karena pohon ini perlu menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat.
Dengan ditanam di lokasi yang gampang diakses siapa saja, dia berharap masyarkat menjadi kenal. Sekaligus bisa mengembangbiakkan dan menjadikannya sebagai tanaman produktif. Ya, agar tidak lagi sebatas menjadi tanaman keramat. “Kalau sudah dikenal dan tahu manfaatnya, pasti banyak yang ingin menanam,” ujarnya di depan kantor rektorat.
Dari berbagai literatur, pohon raksasa ini berasal dari dataran Afrika Selatan dan dikenal dengan sebutan Baobab. Pohon ini terbilang tahan banting, mampu hidup di tengah dataran kering. Di Indonesia, pohon ini lebih banyak ditemukan di lokasi perkebunan. Terutama perkebunan asli Belanda — tanaman ini dibawa para pedagang di zaman kolonial.
Ada yang lebih menarik lagi saat prosesi pemindahan pohon raksasa itu hingga sampai ke area kantor rektorat UI. Kepala Proyek Waskita Karya, Heri Indiarto yang dilibatkan dalam prosesi pemindahannya mengaku banyak tantangannya.
“Kami butuh truk kontainer berkapasitas 80 ton. Karena berat pohonnya 60 ton lebih,” terangnya. Untuk mencabut dan menanam pohon, butuh mobil crane berkekuatan 60 ton lebih.
Sudah begitu, selama perjalanan, pihaknya harus mengukur jalan. Terutama pada lokasi tikungan. Jika tidak sesuai, bisa berbahaya bagi truk pembawa pohon.
Kini pohon asli benua hitam itu mulai menghijau. Daunnya yang kecil-kecil memenuhi batang dan dahan. Tak lagi terlihat gersang seperti saat pertama ditanam. Harapannya, buah yang kaya vitamin itu segera bersemi. Kapan kampus kita di Makassar melakukan langkah serupa? |fajar/mt|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar