Selasa, 21 Desember 2010

cara orang india melamar pekerjaan

Dari milis sebelah:

Sedikit cerita mengenai orang2 India, krn saya dulu kuliah di jurusan sipil
yg 80 persen mahasiswanya adalah India, sehingga sempat merasa jadi orang
India:). Walaupun di hampir semua pelajaran mereka lebih banyak bertanya
pelajaran ke saya dari pada saya nanya ke mereka, umumnya mereka bisa
mendapatkan pekerjaan dalam waktu yg sangat singkat (hanya 1-2 bulan).

Setelah tamat saya sempat mencari kerjaan kemana-mana dan jadi pengangguran
lebih dari 6 bulan. Selain karena kondisi amrik yg pada saat itu masih dlm
resesi awal tahun 90-an, juga masih membawa gaya Indonesia dlm mencari
pekerjaan, yaitu ngirim resume dan menunggu:).

Akhirnya setelah hampir nyerah dan uang cuman tinggal beberapa ratus perak
(sudah hampir rencana minta bokap buat ngirim tiket pesawat), salah satu
teman India yg dulunya sering saya bantu dlm ngerjain tugas, dll., ngajak
saya utk menginap di apartemennya di Houston, dan nggak perlu khawatir ttg
biaya hidup.

Teman saya ini sewa apartemen 2 kamar dimana satu kamar dipakai buat dia,
istrinya serta 2 anaknya yg masih kecil, dan kamar satunya lagi kemudian
saya pakai berdua dg teman kuliah juga yg baru tamat dan sedang nyari kerja.
Dari situ saya udah kagum demi temannya dia rela bersempit2an dg
keluarganya.

Di sana saya di ajak ke beberapa India lain yg sudah kerja, dan apartemen
mereka penuh dg India2 yg sedang nyari kerja yg datang dari segala penjuru
amerika. Mereka yg sudah punya kerja, walaupun single, menyewa apartemen 2
kamar yg besar, sehingga bisa menampung India2 lain yg umumnya belum dikenal
utk sama2 tinggal di sana.

Hari pertama tinggal di rumah teman, saya disodorkan list nama serta nomor
telepon manager2 perusahaan2 konsultan sipil di Houston. Teman saya bilang
hanya mengirim resume tidak ada gunanya krn mereka menerima puluhan resume
sehari dan bisa2 langsung dibuang ke tong sampah:). Saya disuruh menelpon
satu2 manager2 yg ada dilist.

Dengan memaksakan diri saya coba telepon di list yg paling atas, dan
dijawab...kita lagi nggak perlu karyawan baru..dan saya cuman bisa bilang
ok...dan menutup telepon. Teman India saya geleng2 kepala mendengar cerita
saya, dan dia mulai mengajarkan bagaimana menghadapi penolakan. Saya
diajarkan utk mengatakan bahwa saya tertarik dg perusahaan anda, dan ingin
mengetahui lebih lanjut ttg perusahaan tsb. Kalau dia bilang dia nggak punya
waktu, tanyakan dimana dia makan siang dan ajak makan siang bareng sambil
ngomong ttg bisnis.

Akhirnya saya praktekan ajaran India tsb...dan benar urutan komunikasinya
kurang lebih sama dg yg disimulasikan oleh si India. Kemudian si manager
bilang dia akan telepon saya. Ternyata benar..besoknya saya diundang
langsung ke kantornya dan dapat kerja hanya hitungan 1-2 minggu di
perusahaan konsultan yg termasuk multinasional. Dari situ saya mengerti
bagaimana India2 bisa sukses walaupun berada dimana saja.

Senin, 20 Desember 2010

Penetrasi Yahudi melalui Grup Bakrie

Penetrasi Yahudi melalui Grup Bakrie

Penguasaan kaum Yahudi atas ekonomi negeri ini terus berlanjut. Kali ini melalui Grup Bakrie

Penguasaan kaum Yahudi atas perekonomian negeri ini sudah berlangsung sejak 400 tahun lalu. Semuanya, tentu saja, dimulai oleh perusahaan multinasional tempo dulu, yakni Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) atau VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602, oleh� sejumlah pengusaha Yahudi Belanda. Direksi awal VOC sepenuhnya adalah orang Yahudi bergelar Coen, dan salah satunya yang paling terkenal di sini, yang pernah menjadi Gubernur Jenderal di Batavia, adalah J. Peterzoen Coen, yang dikenal sebagai "Mur Jangkung"

Dari waktu ke waktu penetrasi kaum Yahudi� di negeri ini terus terjadi, baik tersamar maupun secara kasat mata. Yang paling mutakhir adalah� masuknya Nathaniel Rothschild� (baca: Siapakah Rothschild?) melalui perusahaannya, Vallar PLC, yang baru saja bertukar guling saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), melalui PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR). Sebagaimana beritanya telah dilansir oleh detik.com, Rothschild dalam conference call-nya seperti dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (17/11/2010), menyatakan alasannya masuk ke Indonesia, "Karena aset-aset (batubara di Indonesia) secara signifikan jumlahnya lebih besar dan biayanya lebih rendah,"

Indonesia kini tercatat sebagai eksportir batubara terbesar di dunia dengan konsumen terbesar adalah dari pembangkit-pembangkit listrik. Rothschild selanjutnya ingin menjadikan perusahaan gabungannya dengan Bakrie itu sebagai pemasok terbesar dunia. Batu bara Indonesaia itu nantinya akan dipasokkan ke negeri Cina.

Pada tahun 2009, total impor batubara China mencapai 126 juta ton, atau melonjak hingga 3 kali lipat dibandingkan 2008. Selain batubara, Rothschild juga mengincar sejumlah bahan tambang berharga lain di Indonesia seperti tembaga, emas, bijih besi, timbal, molybdenum, seng. Rothschild berharap bisa mendapatkan bahan-bahan tambang itu dari anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni PT Bumi Resources Mineral (BRM).

Menurut detik.com, BNBR menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar seharga GBP 10 per saham.

Rothschild juga mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Harga akuisisi saham BRAU akan dilakukan pada Rp 540. PT Bukit Mutiara, anak usaha Recapital Advisors melepaskan 75% sahamnya di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan akan memperoleh dana tunai Rp 6,596 triliun dan 24,9% saham Vallar Plc, perusahaan milik keluarga Rothschild. Usai transaksi ini, BNBR akan menjadi induk usaha Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan menjadi pemegang 25% saham BUMI. Setelah transaksi, Vallar akan berganti nama menjadi Bumi Plc.

Kamis, 16 Desember 2010

Menjelajahi Ujung Genteng

Menjelajahi Ujung Genteng...
Jumat, 17 Desember 2010 | 08:25 WIB
HERAJENG GUSTIAYU
Curug Cikaso di Sukabumi, Jawa Barat.
HERAJENG GUSTIAYU
Pantai Ujung Genteng di Sukabumi, Jawa Barat.
HERAJENG GUSTIAYU
Penangkaran penyu di pantai Pangumbahan, Sukabumi, Jawa Barat.
HERAJENG GUSTIAYU
Air terjun di Curug Cikaso, Sukabumi, Jawa Barat.
TERKAIT:

* Tanah Lot Targetkan 2 Juta Wisatawan
* Yogyakarta Siapkan Paket Murah
* Wisata Budaya Samosir Perlu Promosi
* Pariwisata DIY Terbaik
* Malioboro Kembali Normal

KOMPAS.com — "Pokoknya apa pun yang terjadi, kita tujuannya have fun ya!" Pernyataan itu seakan membuka awal dari perjalanan kami menuju Ujung Genteng, Sukabumi Selatan, Jawa Barat.

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman sempat berjalan-jalan ke Ujung Genteng, sebuah kawasan pantai di selatan Sukabumi, dengan berbagai macam spot wisata tersebar di daerah ini.

Berjarak sekitar 200 kilometer dari Jakarta, membutuhkan sekitar 6 hingga 8 jam perjalanan untuk mencapai Ujung Genteng.

Rencananya kami berempat (saya, Hanny, Mitra, dan Lisa) akan ke sana selama 2 hari 2 malam, dengan transit semalam di Sukabumi, memanfaatkan libur akhir minggu sehingga tidak memerlukan izin cuti.

Sebagai budget backpacker amatiran, kami menuju Ujung Genteng dengan budget per orang Rp 200.000 (yang langsung didepositkan ke Mitra) serta beberapa print-out hasil googling di internet dan kepiawaian Mitra dalam menentukan moda dan rute transportasi.

Hari pertama, Jumat pukul 16.30. Titik pertemuan kami adalah di Percetakan Negara, di depan kantor teman-teman jalan saya nanti. Dari sana kami berempat bertolak menuju Terminal Pulo Gadung untuk naik bus AC Jakarta-Bogor menuju Sukabumi.

Sampai di Sukabumi sekitar pukul 20.00 dengan kondisi cuaca yang hujan rintik-rintik, kami melanjutkan perjalanan dengan ELF Surade-Bogor, yang serunya bisa muat sampai 18 orang! Padahal kapasitas normal cuma sekitar 12 orang! Di ELF itu kami hanya bisa tertawa-tawa menyadari posisi duduk yang sudah tidak jelas. Sepertinya kalau duduknya bisa vertikal, pasti dijabanin juga deh tuh sama si kenek.

Pukul 21.00. Akibat hujan dan kemacetan yang disebabkan oleh jam orang pulang kantor, kami tiba di Stasiun Cibadak sekitar pukul 21.00. Menginap semalam di rumah neneknya Mitra, dan disuguhi makan malam yang terasa enak sekali karena perut kosong dan tubuh yang sudah terasa lelah. Setelah bersih-bersih dan makan malam, kami langsung beristirahat menyiapkan energi untuk esok paginya.

Hari kedua, Sabtu pukul 07.30. Setelah selesai beres-beres, kami melanjutkan perjalanan dari Cibadak menggunakan angkot ke Terminal Lembur Situ, yang dilanjutkan dengan bus AC MGI Surade-Bogor, melewati Stasiun Jampang Kulon menuju Surade.

Pukul 13.00 kami sampai di Terminal Surade. Dari Surade, kami naik angkot sekali lagi menuju Ujung Genteng. Mendekati Ujung Genteng, sopir angkot yang tumpangi menawarkan untuk menyewakan angkotnya selama kami berjalan-jalan di sana. Dari hasil tawar-menawar, akhirnya kami sepakat untuk menyewa angkot dengan biaya Rp 160.000 untuk antar-jemput, cari penginapan, mengantar ke Curug Cikaso dan mengejar sunset di Pantai Cipanarukan, serta jasa tour guide kecil-kecilan.

Kami juga berkenalan dengan pengemudi angkot tersebut yang ternyata bernama Erik, dan tampaknya sempat tersinggung saat Mitra memanggilnya 'Mang'. "Jangan panggil mang dong! Panggil Erik aja," katanya.

Erik pun menjadi teman baru kami selama berjalan-jalan di Ujung Genteng. Sesampainya di Ujung Genteng, kesan pertama kami adalah walaupun daerah pantai, anginnya sejuk! Kenapa bisa gitu ya?

Di sana kami mencari penginapan dengan diantar Erik. Beberapa penginapan yang rata-rata memiliki nama dengan awalan kata "pondok" sempat kami datangi untuk membandingkan harga. Akhirnya kami mendapatkan penginapan dengan harga Rp 200.000 di Pondok Adi. Kalau harga normal Rp 350.000. Kami dapat murah berkat hasil negosiasi yang gigih.

Nama bungalonya "Cibuaya". Bungalo mini ini memiliki fasilitas 2 kamar tidur masing-masing 4 tempat tidur, 1 kamar mandi, pantry kecil, dan ruang duduk plus serambi.

Saya menyarankan untuk menginap di Pondok Adi ini, walaupun tanpa AC, kondisinya bersih dan nyaman. Kamar mandinya baru. Dengan kilat, kami menaruh barang, ganti baju untuk kotor-kotoran, lalu langsung berangkat menuju Curug Cikaso.

Curug Cikaso

Air terjun yang tersembunyi di daerah lembah yang harus melewati sungai ini terletak 16 km dari Terminal Surade. Begitu sampai di Pos Wisata Curug Cikaso, kami menyewa sebuah perahu dengan harga Rp 50.000 (normalnya Rp 60.000). Perahu ini berkapasitas 6 hingga 8 orang sehingga termasuk relatif murah apabila dibagi 8 orang. Dari ujung sungai hingga ke Curug Cikaso hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

Selama perjalanan, pandangan mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam yang breathtaking. Apalagi setelah melihat Curug Cikaso! Airnya jernih banget! Dan kita bisa bermain air di sini. Oh ya, tips saya kalau mau melewati batu-batu sungai, harus hati-hati karena licin oleh lumutnya. Saya sendiri sempat terjatuh di sana.

Pantai Ujung Genteng

Setelah puas bermain di Curug Cikaso, kami kembali ke daerah penginapan untuk melihat sunset. Tidak lupa kami janjian dengan Erik untuk mengantar pulang ke Surade esok paginya. Sebenarnya kami juga meminta tolong Erik supaya juga mengantar kami ke Pantai Pangumbahan, tempat penangkaran penyu di Ujung Genteng, untuk malam itu.

Tapi, tak disangka-sangka, Erik tidak mau mengantar kami ke sana pada malam hari, alasannya karena dia mau malam mingguan. Katanya, "Wah buat apa cari duit mulu, Mbak. Masak waktu malam minggu juga repot cari duit."

Penangkaran Penyu Pangumbahan

Setelah puas foto-foto sunset dan makan malam di warung kecil yang tampaknya sudah tutup (mie rebus plus telur) kami mencari ojek untuk mengantar kami ke Pantai Pangumbahan.

Setelah mencoba mencari dan tidak menemukan calon ojek yang terlihat qualified, kami memutuskan bertanya kepada manajemen Pondok Adi. Di sana kami baru mengetahui bahwa tiap penginapan memiliki langganan ojeknya masing-masing. Tarifnya pergi-pulang Rp 40.000 per orang. Saran saya lebih baik meminta tolong dicarikan ojek oleh pemilik penginapan daripada mencoba mencari ojek sendiri.

Pukul 20.30 kami dijemput oleh ojek. Dari sana kami menuju Pantai Pangumbahan dengan melewati jalan-jalan kecil dan gelap. Kondisi yang gelap ini memang dibutuhkan untuk sebuah tempat penangkaran penyu. Karena katanya penyu yang akan bertelur apabila melihat cahaya akan enggan untuk bertelur dan akan kembali ke laut. Makanya kondisi jalanan memang gelap dan tidak dipasangi lampu sama sekali. Kalau bukan ojek yang terbiasa, saya kira pasti kami sudah tersesat.

Jadi, lagi-lagi saran saya, minta pesankan ojek dari penginapan Anda untuk melihat penyu bertelur.

Sekitar 5-10 menit kemudian kami sampai di tempat penangkaran tersebut. Kami melihat dan menyentuh beberapa anak penyu yang akan dilepas esok paginya (sekitar jam 5 subuh). Seingat saya, petugas di sana sempat memberi tahu bahwa untuk melihat penyu yang bertelur diperlukan kesabaran dan ketelatenan karena jadwal penyu bertelur, biasanya pukul 20.00 hingga pukul 04.00, tidak tentu.

Kami beruntung akhirnya bisa melihat penyu bertelur sekitar pukul 22.00. Kesan kami saat itu hanya satu, gelap! Mitra dan Mbak Lisa sampai menyebut, benar-benar kaya jalan di mimpi saking gelapnya!

Di tempat penangkaran terdapat enam pos penjagaan. Kebetulan penyu yang sedang bertelur itu ada di Pos 6, pos terjauh. Pasir di pantai ini amat tebal dan halus. Karena gelap, jadi saya hanya bisa mengira-ngira. Berulang kali kami tersandung oleh cekungan-cekungan pasir yang cukup dalam. Kami tertawa-tawa hingga sakit perut saat salah seorang di antara kami tersandung karena saat itu kami saling bergandengan tangan, takut terpisah! Jadinya begitu jatuh satu, jatuh semua!

Saya baru tahu, ternyata walaupun saat ingin bertelur harus memiliki kondisi pantai yang bebas cahaya, saat penyu sedang bertelur ternyata kondisi seperti apa pun tidak berpengaruh baginya. Oleh karena itu, saat penyu sedang bertelur adalah saat yang tepat untuk memotret sang ibu penyu.

Pantai yang gelap kini mulai dihujani kilatan blitz dari kamera-kamera penonton. Setelah puas memotret sang ibu penyu, kami kembali ke penginapan. Bersih-bersih kemudian beristirahat untuk melihat matahari terbit esok paginya.

Oh ya, saat itu budget kami sudah mulai menipis sehingga kami memasukkan Rp 100.000 lagi per orang sebagai deposit.

Hari ketiga, Minggu pukul 05.00, setelah shalat, dan tanpa mandi kami langsung berangkat mencari sunrise. Karena kami tidak tahu mau ke mana, jadilah kami jalan menuju matahari tanpa tahu tujuan. Ternyata setelah berjalan kaki cukup jauh, kami menemukan TPI (tempat pelelangan ikan), dan sebuah pantai yang luas dengan matahari terbitnya. Dari kejauhan terlihat banyak fotografer yang mencoba menangkap keindahan sang matahari yang baru terbangun dari tidurnya.

Pukul 07.00 kami balik ke penginapan, beres-beres, dan pukul 08.30 ternyata Erik sudah menjemput. Kami sempat ke Villa Amanda Ratu sekalian mengantar klien barunya Erik, dan kami menemukan "Tanah Lot" mini.

Sekitar 15 menit bermain di sana, kami langsung bertolak ke Surade. Erik benar-benar guide yang sangat membantu. Dari Surade, kami naik ELF Surade-Bogor menuju Terminal Degung, dari sana kami berempat berpisah. Mitra dan Mbak Lisa naik bus tujuan Pulo Gadung, saya dan Hanny naik bus tujuan Lebak Bulus.

Pukul 18.00, saya dan Hanny akhirnya tiba di Jakarta. Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Duh senangnya liburan!

Ujung Genteng is superb! Kami tidak sempat ke beberapa spot wisata lainnya, tapi pengalaman kami benar-benar amat sangat seru dan menyenangkan. Hitung-hitung sebagai latihan untuk jadi budget backpacker yang andal! Sebagai catatan, total pengeluaran semuanya (termasuk akomodasi, transportasi, dan makan) adalah Rp 291.000 untuk 3 hari 2 malam. (Herajeng Gustiayu)

Kembalikan pasar kita

Jakarta, 15 September 2008
Kembalikan Pasar Kita
Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara
Perbedaan mendasar antara �distribusi� dan perdagangan adalah ada atau tidaknya prasarana perdagangan umum dan terbuka yang dapat diakses kapan pun oleh siapa pun yang hendak berdagang dengan posisi setara. Dan ini berarti tersedianya pasar-pasar terbuka secara fisik.

Titik pertemuan bagi kepentingan konsumen dan produsen, tempat transaksi jual-beli terjadi, adalah pasar. Supaya transaksi yang terjadi berlangsung secara adil maka pasar tidak boleh mengacaukan kesepakatan harga. Karenanya pasar haruslah benar-benar hanya berfungsi sebagai sarana penunjang saja, tidak boleh mempengaruhi struktur biaya. Hanya dengan demikian �pasar bebas� dapat dicapai. Sebaliknya, �pasar yang tidak bebas�, akan mengakibatkan terdistorsinya harga, yang akhirnya merugikan konsumen sebagai pihak yang harus membayar.

Pasar sebagai prasarana transaksi haruslah memiliki ujud fisik, marketplace. Dalam tradisi muamalat pasar memiliki karakteristik yang memastikan keterbukaannya. Pasar, dalam ajaran Islam, selain terbuka bagi setiap orang, tidak boleh dimiliki dan dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. Rasulullah, sallalahu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa �Sunnah-ku di pasar sama dengan Sunnah-ku di masjid�. Maka, bahkan mendirikan bangunan permanen di pasar, yang mengakibatkan tertutupnya akses bagi umum, juga tidak dibenarkan apalagi menguasainya.

Para pedagang Muslim sejati, sepanjang sejarah Islam, selalu bergerak bebas, sendiri-sendiri maupun dalam kafilah-kafilah dagang (Karavan), dari satu pasar terbuka ke pasar terbuka lainnya. Dalam pengalaman sejarah Islam pasar-pasar selalu bergerak yang dicerminkan dari nama-namanya: suq al-ahad di Damaskus, suq al-thalatha di Baghdad, suq al-arba�a di Maswil, suq al-khamis di Fez dan Marakesh, dan sebagainya. Nama-nama ini mencerminkan hari-hari diselenggarakannya pasar di tempat-tempat tertentu tersebut.

Pasar-pasar ini tidak ada yang permanen. Hanya untuk keperluan pengamanan barang-barang berharga bangunan permanen dibangun sebatas sebagai gudang-gudang penyimpanan, sebagai fasilitas umum. Dengan kata lain fungsi pergudangan dibedakan dari fungsi pasar. Pasar pertama di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW, baqi� al-Zubayr, pun sepenuhnya merupakan lapangan terbuka. Terkait dengan keberadaan pasar-pasar terbuka ini adalah institusi wakaf, yang kemungkinan bentuknya tentu saja jauh lebih luas dari sekadar pasar, yang juga menjadi elemen penting kehidupan gilda-gilda.

Di Indonesia kita tinggal merasakan sisa-sisa beroperasinya pasar-pasar Islami tersebut. Di Jawa Tengah masih dikenal nama-nama lima hari pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, yang dulunya menandakan dibukanya pasar-pasar yang �bergerak� dari satu kota ke kota lain, secara bergiliran menurut hari-hari pasaran yang ditentukan. Di wilayah DKI Jakarta dahulu beroperasi sejumlah pasar yang dinamai berdasarkan hari-hari dalam sepekan: Pasar Senin, Pasar Rebo (Rabu), Pasar Jum�at, dan Pasar Minggu, yang kini tinggal nama belaka. Kalau pun masih ada yang berfungsi sebagai pasar, seperti Pasar Senen, ia telah berubah menjadi kumpulan mal dan pasar swalayan.

Pengenaan segala bentuk retribusi dan pajak di pasar juga haram hukumnya, dengan jaminan oleh pemerintah (bukan justru memajaki para pedagang, sebagaimana dilakukan oleh negara fiskal). Di sini kita melihat bahwa pemerintahan negara kapitalis yang memajaki rakyatnya sendiri adalah sebuah otoritas yang mengingkari fungsinya sebagai pelindung masyarakat. Apalagi, akhirnya hanya sedikit saja pajak itu yang dikembalikan kepada rakyat, karena sebagian besar diserahkan sepenuhnya kepada rentenir sebagai cicilan utang.

Apa yang dalam kapitalisme disebut sebagai perdagangan, dalam bentuk mal-mal dan pasar-pasar swalayan (mini, super, sampai hyper-market), sama sekali bukan perdagangan dalam pengertian muamalat. Dalam perspektif muamalat kita dapat menyebut sistem ini sebagai distribusi monopolistik. Perhatikan saja sekeliling kita saat ini. Warung-warung dan toko-toko kelontong setiap hari semakin berkurang, digantikan hanya oleh dua jaringan mini-market, Alfamart dan Indomart, yang semakin hari semakin merajalela sampai ke kampung-kampung penduduk. Sementara pasar-pasar swalayan lain yang berskala menengah juga semakin berkurang, digantikan oleh sejumlah kecil hyper market berskala besar.

Perbedaan mendasar antara �distribusi� dan perdagangan adalah ada atau tidaknya prasarana perdagangan umum dan terbuka yang dapat diakses kapan pun oleh siapa pun yang hendak berdagang dengan posisi setara. Dan ini berarti tersedianya pasar-pasar terbuka secara fisik.

Menghilangnya pasar-pasar dari kehidupan kita memberikan akibat buruk ganda kepada masyarakat. Para konsumen harus membayar lebih mahal, untuk sesuatu yang tidak terkait langsung dengan barang yang dibelinya, sementara para pedagang � terutama pedagang kecil � semakin kehilangan kesempatan berusaha. Di layar tivi setiap hari kita menonton para pedagang yang terus-menerus dikejar dan diusir-usir oleh petugas tata tertib kota, karena dianggap berjualan secara liar. Seharusnya tanggung jawab pemerintahan kota di seluruh pelosok Indonesia adalah menyediakan marketplace itu, bagi konsumen dan pedagang kita, sebanyak-banyaknya. Masyarakat dapat berperan serta menyelenggarakan pasar ini dengan menyediakan tanah-tanah wakaf.

Dan Rakyat Amerika Pun Meninggalkan Kartu Kredit

Dan Rakyat Amerika Pun Meninggalkan Kartu Kredit

Kamis, 16/12/2010 07:54 WIB | email | print | share

Adam Baker tak kuasa lagi meneteskan air matanya ketika dia dan istrinya menutup tiga rekening kartu kreditnya untuk terakhir kalinya pada tahun 2008. "Itu adalah pengalaman yang sangat keren—menakjubkan," kata warga Shelbyville, Indiana itu. "Kami ternyata tidak perlu kartu kredit.”
Di California, Josh McElravy berhenti menggunakan kartu kredit awal tahun ini, dan untuk membayar utang kartu kreditnya yang membumbung sampai S10.000, ia meminjam uang kepada perorangan secara on-line. "Sebuah kartu debit menyediakan kenyamanan dari sebuah plastik tanpa khawatir tentang tagihan bunga 20 persen dari bank" pada saldo yang belum dibayar, kata Mr McElravy, seorang spesialis transfer uang elektronik di sebuah bank di Santa Clara, California.
Kartu kredit mungkin tidak akan segera menjadi penghuni tong sampah sebagai sejarah. Tapi kartu kredit sudah kehilangan kemilaunya sebagai metode pembayaran yang disukai rakyat Amerika. Sejak tahun 2005, konsumen telah menggunakan kartu debit lebih sering daripada kartu kredit, kata Laporan Nilson, sebuah newsletter di Carpinteria. California Pada 2016, diperkirakan, akan membelanjakan lebih banyak pada kartu debit juga.

Mengapa? Satu alasan besar adalah bahwa masa-masa sulit ekonomi dan kondisi kredit yang ketat telah memaksa penerbit kartu untuk memangkas atau menghentikan rekening berisiko dan konsumen untuk memangkas saldo kartu. pergeseran ini terutama terlihat di kalangan orang muda; banyak dari mereka tampaknya lebih memilih pembayaran tunai.
Sebagai contoh, karena bergantung pada aturan debit-kartu yang dikeluarkan sesuai penyesuaian Bank Sentral, konsumen bisa membayar—atau membayar lebih—piutang terkait dengan kartu debit dan bank "mendapatkan keuntungan lebih sedikit terkait dengan penggunaan debit-card," kata Shawn Miles, Kepala kebijakan publik global pada MasterCard Worldwide, yang berbasis di Purchase, NY.
Sejak resesi, rakyat Amerika tampaknya telah berusaha menjauh dari kartu kredit. Pada bulan September, tingkat utang dari kartu kredit turun hampir 18 persen dibandingkan dengan Desember 2008, data Bank Sentral menunjukkan. Pada akhir September, jumlah rekening kartu kredit buka turun 24 persen dari tahun 2008.

"Setelah ekonomi pulih, kami berharap kartu debit tetap lebih populer daripada kartu kredit," kata Brian Riley, direktur riset senior jasa kartu-bank di TowerGroup, perusahaan penelitian jasa keuangan dan perusahaan konsultasi yang berbasis di Needham. Dia memperkirakan"efek mental resesi pada rakyat" akan berlangsung lama, karena "memang akan memakan waktu puluhan tahun bagi rumah tangga untuk mendapatkan kembali kekayaan bersih mereka seperti di tahun 2007."
Pindah ke kartu debit juga bukan kabar baik untuk para pengecer. Ini berarti perekenomian lebih besar pasak daripada tiang. Menurut Riley, penggunaan kartu debit sama saja dengan masuk kepada perangkap utang yang lain. “Anda hanya akan melihat pengurangan orang yang masuk ke dalam perangkap utang, namun sangat positif."
Kaum muda Amerika misanya. 34 persen mengatakan mereka menggunakan kartu debit sangat sering untuk pembelian atau pembayaran tagihan, dan hanya 26 persen yang lebih suka menggunakan kartu kredit, menurut survei yang dilakukan oleh Javelin Strategy & Research, sebuah perusahaan riset dan jasa keuangan di Pleasanton, California.
"Mereka ingin informasi yang nyata," kata James Van Dyke, presiden dan pendiri Javelin. "Mereka menginginkan metode pembayaran yang mengambil dana dari rekening deposito mereka sekarang ... Ini adalah tren yang mendalam dan abadi."

Tapi, memang tidak semua orang meninggalkan kartu kredit. Sebagian rakyat Amerika tidak setuju. "Saya menggunakan kartu kredit," kata Tim Chen, pendiri NerdWallet.com, sebuah situs kartu kredit di New York. "Kebanyakan teman-teman saya yang bekerja di bidang keuangan menggunakannya. Mereka mencoba untuk mendapatkan keuntungan dari penggunaan kartu kredit yang biasanya lebih baik dibandingkan dengan kartu debit."
Ketika ekonomi sudah kuat kembali, menurut Tim, penggunaan kartu kredit akan kembali meningkat pulan. Tahun ini rata-rata setiap rumah di Amerika dikenakan biaya $ 1703 per bulan pada kartu kredit, dan itu menjadi angka tertinggi sejak 2002, kata Lauren Guenveur, direktur studi praktek jasa keuangan di Synovate, New York.
Jadi, bagaimana sekarang seharusnya cara aman berbelanja? Seperti yang dilakukan oleh Adam Baker dan istrinya: berhenti dari kartu kredit dan melakukan transaksi tunai. Jauh dari utang bank. (sa/csm)
source: eramuslim.com

Rabu, 15 Desember 2010

Konservasi Pohon Raksasa Asal Afrika di Kampus UI Depok

Konservasi Pohon Raksasa Asal Afrika di Kampus UI Depok

[D-News] | Dec 14, 2010 | Komentar Anda
D-News | Adansoia Digitata. Itulah sebutan ilmiah pohon asal Afrika ini. Ukurannya terbilang raksasa. Beratnya 60 ton. Usianya bisa mencapai ratusan tahun. Kini, pohon raksasa itu tertanam di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok.
Lupakan istilah ilmiah pohon raksasa yang cukup sulit diingat dan kurang populer didengar itu. Warga Kabupaten Subang, Jawa Barat, punya sebutan yang lebih akrab, yakni Ki Tamblek.
Ukurannya besar. Diameternya saja empat meter lebih. Untuk memeluknya utuh, butuh 16 orang. Tingginya menjulang sampai 20 meter lebih.
Sebutan Ki Tamblek, karena pohon itu identik dengan sesuatu yang mistis dan menyeramkan.
Dari berbagai studi ilmiah, pohon ini memberikan manfaat luar biasa. Daunnya lezat untuk lalapan. Mirip daun kemangi yang biasa digunakan makan pecel lele. Buahnya juga lezat menyerupai cempedak.
Kandungan vitamin C-nya enam kali lebih banyak dari jeruk. Potassium enam kali lebih banyak dari pisang, kalsiumnya dua kali lebih tinggi dari susu. Begitu pula zat besi, antioksidan dan magnesiumnya sangat banyak.
Namun di pedalaman Subang, pohon raksasa ini hanya sebagai pohon keramat. “Kita inginkan pohon ini menjadi magnet baru. Kampus UI tak hanya dikenal sebagai kampus riset. Tapi juga kampus yang melakukan konservasi pohon tua,” ungkap Rektor UI, Prof Dr Gumilar Rusliwa Somantri.
Nantinya, sambung dia, terdapat 10 batang pohon sejenis di kampus ini. Semuanya ditanam di sekitar kantor rektorat dan gedung perpustakaan UI. Langkah itu diambil karena pohon ini perlu menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat.
Dengan ditanam di lokasi yang gampang diakses siapa saja, dia berharap masyarkat menjadi kenal. Sekaligus bisa mengembangbiakkan dan menjadikannya sebagai tanaman produktif. Ya, agar tidak lagi sebatas menjadi tanaman keramat. “Kalau sudah dikenal dan tahu manfaatnya, pasti banyak yang ingin menanam,” ujarnya di depan kantor rektorat.
Dari berbagai literatur, pohon raksasa ini berasal dari dataran Afrika Selatan dan dikenal dengan sebutan Baobab. Pohon ini terbilang tahan banting, mampu hidup di tengah dataran kering. Di Indonesia, pohon ini lebih banyak ditemukan di lokasi perkebunan. Terutama perkebunan asli Belanda — tanaman ini dibawa para pedagang di zaman kolonial.
Ada yang lebih menarik lagi saat prosesi pemindahan pohon raksasa itu hingga sampai ke area kantor rektorat UI. Kepala Proyek Waskita Karya, Heri Indiarto yang dilibatkan dalam prosesi pemindahannya mengaku banyak tantangannya.
“Kami butuh truk kontainer berkapasitas 80 ton. Karena berat pohonnya 60 ton lebih,” terangnya. Untuk mencabut dan menanam pohon, butuh mobil crane berkekuatan 60 ton lebih.
Sudah begitu, selama perjalanan, pihaknya harus mengukur jalan. Terutama pada lokasi tikungan. Jika tidak sesuai, bisa berbahaya bagi truk pembawa pohon.
Kini pohon asli benua hitam itu mulai menghijau. Daunnya yang kecil-kecil memenuhi batang dan dahan. Tak lagi terlihat gersang seperti saat pertama ditanam. Harapannya, buah yang kaya vitamin itu segera bersemi. Kapan kampus kita di Makassar melakukan langkah serupa? |fajar/mt|

Teknik Buang Air Besar yang Benar

Teknik Buang Air Besar yang Benar

Merry Wahyuningsih - detikHealth
<p>Your browser does not support iframes.</p>

Jakarta, Sering mengejan atau mengejan terlalu keras saat buang air besar merupakan salah satu penyebab orang mengalami ambeien. Untuk itu, ketahui cara-cara yang benar untuk buang air besar agar terhindar dari ambeien atau wasir.

Wasir atau ambeien atau hemoroid merupakan penyakit atau gangguan pada anus. Bibir anus mengalami pembengkakan dan terkadang disertai pendarahan.

Untuk mencegah penyakit ini, biasanya dokter akan menyarankan agar teratur buang air besar (BAB) dan banyak makan makanan berserat. Teknik BAB yang benar juga bisa membantu mencegah ambeien.

Dilansir Med.umich.edu, Kamis (16/12/2010), berikut beberapa teknik BAB yang sehat dan benar untuk mencegah ambeien:
  1. Duduk di toilet dengan mengarahkan badan ke depan. Istirahatkan lengan di paha dan sedikit angkat tumit kaki.
  2. Alternatif lain, arahkan badan ke depan dengan memegang pergelangan kaki.
  3. Usahakan rektum (jalur usus besar dekat anus) santai dan rasakan ada sedikit tonjolan yang keluar
  4. Bibir, rahang dan mulut yang terbuka akan memfasilitasi relaksasi otot panggul yang normal selama BAB.
  5. Tarik napas dalam melalui hidung dan hembuskan lewat mulut atau mendesis lembut lewat gigi. Ini bisa mencegah perut tidak menjadi keras.
  6. Jika pasca melahirkan atau mengalami penurunan perineum (daerah antara vagina dan rektum), tempatkan jari-jari di luar perineum.
  7. Setelah selesai, kembalikan kondisi otot panggul dalam keadaan normal.
  8. Ulangi cara di atas 3-4 kali bila belum berhasil.

Selain melakukan teknik BAB yang benar, ambeien juga bisa dicegah dengan membiasakan BAB rutin dan tidak keras, dengan cara sebagai berikut:

1. Temukan waktu terbaik Anda untuk BAB.

Biasanya waktu terbaik setengah jam hingga 1 jam setelah sarapan, tapi untuk beberapa orang setengah sampai 1 jam setelah makan siang. Waktu ini terbaik karena menggunakan refleks gastro-colic, yaitu stimulasi gerak usus yang terjadi dengan makan untuk membantu BAB.

2. Pastikan Anda tidak terburu-buru dan memiliki akses mudah ke kamar mandi


3. Biasakan makan dalam jam yang sama setiap hari, baik sarapan, makan siang dan makan malam. Fungsi usus akan sangat baik bila orang makan dalam jam yang reguler.

4. Biasakan juga selalu makan dalam jumlah yang sama setiap hari
5. Makan makanan yang tinggi serat, seperti buah-buahan dan sayuran.
6. Minum banyak cairan tanpa kafein, idealnya 64 ons sehari atau 8 gelas air.
7. Melakukan olahraga setiap hari, ini akan membantu kerja usus secara konsisten.
8. Jauhkan kafein karena dapat menyebabkan diuretik usus besar dan membuat kotoran menjadi keras.

(mer/ir)