Rabu, 19 Januari 2011

Uang di Dunia Matrix

Jakarta, 17 Januari 2011
Uang di Dunia Matrix
Marsono - Al Wakil Wakala At Tawazun
Anda pernah menonton film Matrix? Film fiksi tahun 1999 yang dibintangi oleh Keanu Reeves tersebut memang tergolong menarik.

Dalam film tersebut digambarkan seorang Neo (Keanu Reeves) yang tiba-tiba merasakan kegelisahan dalam hidupnya. Dia merasakan ada yang tidak beres dengan dunia yang dia jalani. Merasa ada sesuatu yang salah , tetapi tidak tahu apakah itu. Perasaan itulah yang membawa Neo bertemu dengan Morpheus. Morpheus berusaha untuk meyakinkan Neo bahwa dunia yang selama ini dijalani hanyalah tampilan yang disajikan di hadapan mata untuk menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Morpheus memberinya pilihan, meminum pil merah atau biru. Ketika Neo memilih, hidupnya pun berubah. Dia akhirnya mengetahui bahwa kehidupan yang dijalani selama ini adalah palsu. Semua itu ternyata perbuatan sebuah mesin raksasa dengan programnya yang bernama Matrix.

Ternyata kehidupan Neo selama ini sebagai orang kantoran hanya semu belaka. Fakta sesungguhnya adalah bahwa fisik Neo dihubungkan dengan chip dan peralatan yang membuat dirinya seakan-akan hidup dalam kehidupan nyata yang nyaman. Padahal, dirinya selama ini terpenjara dalam mesin raksasa. Boro-boro dia menjalani kehidupan normal seperti pergi ke kantor, untuk bergerak saja dia tidak bisa karena dirinya terhubung dengan kabel-kabel besi yang menjeratnya.

Kelompok pejuang yang dipimpin Morpheus akhirnya bisa melepaskan semua kabel-kabel yang menyandera tubuh Neo dan mengamankan Neo ke markas pejuang. Akhirnya, Neo bergabung dengan para pemberontak untuk menghadapi penjajahan kaum mesin. Dengan kesadaran barunya, Neo menghadapi kenyataan pahit dalam dunia nyatanya. Akan tetapi dia lebih memilih hal tersebut daripada terjajah oleh mesin dan hidup dalam imajinasi.

Film Matrix tentu saja hanyalah fiksi semata. Akan tetapi, bila kita renungkan, ada sisi kehidupan kita yang mirip dengan dunia 'matrix'. Selama ratusan tahun kita terbelenggu dengan kesejahteraan semu dengan penggunaan uang kertas tanpa kita menyadari bahwa dengan sistem fiat money tersebut, secara pasti kesejahteraan kita terampok oleh inflasi dan tatanan kehidupan kita rusak karena riba yang merajalela.

Uang Bernilai Nyata
Orang berargumen bahwa uang kertas itu nyaman tetapi sebenarnya ada harga yang sangat mahal yang harus dibayarkan. Uang yang seharusnya bernilai intrinsik sehingga nilainya ada di dalam uang tersebut, bukan di luar uang, tergeserkan oleh kertas yang nilainya dipaksakan oleh kekuatan perundangan. Ratusan tahun kita telah terperdaya dengan sistem uang kertas sehingga kita sudah tidak ingat lagi sejarah uang yang sesungguhnya. Uang sejak zaman sebelum Nabi Muhammad , sallalahu alayhi wa sallam terbuat dari logam mulia dan juga dari komoditas lainnya. Begitu kejayaan Islam runtuh, mulailah muncul uang yang terbuat dari kertas yang kini benar-benar berupa kertas tanpa kaitan dengan cadangan emas.

Ketika ada sekelompok orang yang mengingatkan bahwa sistem uang kertas hanya membawa kesengsaraan, susah bagi kita untuk menerimanya. Seperti susahnya Neo untuk menerima penjelasan Morpheus pada awalnya. Itu karena tipuan yang telah begitu lama telah menutupi pandangan kita sehingga kita tidak bisa lagi berpikir jernih. Beberapa orang mengilustrasikan kondisi uang kertas saat ini seperti kisah 'Baju Baru Kaisar'. Setiap orang menyangka Sang Kaisar memakai baju yang sangat indah, padahal nyatanya dia tidak memakai baju. Hingga ada seorang anak kecil berteriak,'Lihat, Kaisar tidak memakai baju!'.

Hal yang sama terjadi pada uang kertas. Kita diberitahu bahwa uang kertas adalah kesejahteraan, karena ada nilai di dalamnya, hingga ada yang berkata,'Ini hanyalah kertas biasa, tidak ada nilai sebesar itu di dalamnya'.

Untuk membuktikan hal tersebut, cobalah menyobek uang Rp 100.000,- menjadi dua, maka uang tersebut menjadi tidak laku, yang berarti uang tersebut telah lenyap. Ajaibnya, ketika keduanya disatukan dengan perekat, uang tersebut bisa laku kembali, alias menjadi ada lagi. Tentu saja kondisi tersebut bukanlah yang seharusnya. Uang sejati tidak bisa dengan mudah menghilang dan muncul hanya dengan cara disobek/direkatkan.

Imran N Hosein, ulama Trinidad menyebutkan bahwa uang dalam Islam haruslah:

1. Berupa logam berharga (emas dan perak) atau komoditas lainnya seperti gandum, tepung, kurma dan garam yang tersedia secara bebas di pasar dan tahan lama;
2. Bernilai intrinsik; dan
3. merupakan ciptaan Alloh dengan nilai yang sudah Alloh tentukan kepadanya.

Dengan kondisi di atas, uang yang seharusnya adalah dinar dan dirham (emas dan perak) serta komoditas lainnya.

Kita Punya Pilihan
Sistem fiat money saat ini diterima begitu saja sebagai satu-satunya sistem yang terbaik, padahal sistem tersebut tidak bisa bertahan, tidak adil dan akan collapse. Lihatlah bahwa Rupiah Indonesia telah mengalami penurunan daya beli tiap tahunnya. Setiap orang yang menyimpan uangnya dalam bentuk Rupiah (dan uang kertas lainnya) akan mengalami penurunan daya beli dari tahun ke tahun. Hasil kerja keras kita yang kita simpan dalam wujud rupiah bisa tiba-tiba menghilang daya belinya ketika terjadi krisis moneter. Bahkan dolar pun yang selama ini menjadi acuan, daya belinya juga telah melorot tajam.

Kita harus menyediakan sistem alternatif yang lebih baik daripada itu. Kalau kita berlarut-larut dalam sistem uang kertas maka lama kelamaan kita tidak bisa keluar dari sistem itu, dan kita hidup dalam penjara seperti kehidupan Neo sebelum bertemu dengan Morpheus. Kehidupan semu di dunia matrix yang kelihatannya nyaman tapi sebenarnya memenjarakan. Kesejahteraan yang dibawa oleh uang kertas sebenarnya adalah kesejahteraan semu dan uang kertas adalah uang semu yang terasa manfaaatnya hanya di dunia 'matrix'.

Kita punya dua pilihan: keluar dari dunia matrix uang kertas lalu berjuang melawannya atau membiarkan diri kita selamanya terjajah dan hidup dalam imajinasi uang di dunia matrix. Silahkan memilih.

Inspired by: Fim Matrix dan Video interview Bapak Zaim Saidi

Selasa, 18 Januari 2011

Sunnah saat Hujan (Sunnah Yang Banyak Dilupakan)

Sunnah saat Hujan (Sunnah Yang Banyak Dilupakan)
by Pecinta Hujan on Wednesday, 05 January 2011 at 22:16

Bismillahirrahmanirrahiim..


Artikel ini saya dapatkan dari suatu forum beberapa waktu lalu.. tentang sunnah2 saat hujan yang sudah dilupakan, apa saja sunnah2 yang telah dilupakan tersebut? cekidot gan..


Hujan merupakan nikmat Allah. Dengan hujan Allah menurunkan banyak nikmat ke muka bumi. Dengan hujan Allah menghidupkan bumi yang gersang. Meskipun dengan hujan juga Allah dapat mengirimkan adzab, sebagaimana yang menimpa umat Nabi Nuh as.


Sehingga tidaklah mengherankan, manakala mendung datang, Rasulullah saw tampak cemas dan khawatir. Kecemasan dan kekhawatiran beliau sirna dan berubah menjadi kegembiraan manakala hujan benar-benar turun. Saat mendung datang, beliau khawatir jangan-jangan yang turun nantinya adalah adzab dari Allah. Begitu turun hujan, maka yakinlah beliau bahwa ternyata rahmat dan berkah Allah lah yang turun.


Saat hujan turun, ada beberapa amalan ibadah yang khas dikerjakan oleh Rasulullah saw. Dan kekhasan amalan ini hanya saat hujan turun saja. Sedangkan di saat biasa, dimana tidak turun hujan, amalan khusus ini tidaklah dikerjakan. Apa sajakah amalan tersebut? Sudahkah kita mengetahui dan mengamalkannya?


Amalan Khusus Saat Hujan Turun


1. Dari Abdullah ibn Haris ra berkata : Ibnu Abbas berkata kepada muadzinnya pada suatu hari turun hujan : 'Apabila engkau telah membacakan Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, janganlah engkau membacakan Hayya alash sholah. Bacalah Sholluu fii buyuutikum.' Para hadirin menyanggah yang demikian itu. Maka Ibnu Abbas berkata : 'Apa yang aku suruhkan, telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dari aku (yakni Nabi saw). Ketahuilah bahwasannya shalat Jum'at adalah kewajiban yang ditekankan benar. Aku tidak suka menyempitkan kamu atau memaksa-kan kamu berjalan ke tempat shalat di dalam lumpur.' (Hadits shahih riwayat Al Bukhari).


2. Dari Nafi' Maula Ibnu Umar ia berkata : Bahwasannya Ibnu Umar membacakan adzan di Dajnan, suatu tempat di antara Makkah dan Madinah. Maka beliau membacakan : Sholluu fir Rihal. Kemudian Ibnu Umar ra berkata : 'Adalah Nabi saw memerintahkan muadzinnya di saat malam yang dingin, atau hujan atau yang berangin kencang untuk mengucapkan: Sholluu fir rihal.' (Hadits riwayat Abu Daud, An Nasai dan Al Baihaqi).


3. Dari Abdullah ibn Haris ra berka-ta, pada saat turun hujan Ibnu Abbas menjadi khatib. Pada saat muadzin sampai (hendak membaca) Hayya alash sholah, beliau menyuruh supaya mengucapkan seruan Ash sholatu fir rihal. Maka kami saling memandang kepada sesama kami. Maka berkatalah Ibnu Abbas : 'Seakan-akan kalian mengingkari hal ini. Ketahuilah, sungguh telah mengamalkan hal ini orang yang lebih baik dari aku (yakni Nabi saw), padahal sesungguhnya Jum'at itu suatu amalan yang ditekankan.' (Hadits shahih riwayat Al Bukhari)


Perkataan Para Ulama



1. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Muhibbut Thabari berkata : 'Di musim dingin atau hujan, di dalam adzan tidak dibacakan hayya 'alash sholah, hayya 'alal falah. Melainkan diganti dengan Ala shollu fir rihal.'



2. Imam As Sindi berkata : 'Dari hadits-hadits ini dapat dimengerti bahwa para muadzin Jum'at yang membacakan adzan di kala hujan turun, tidak menyempurnakan adzannya. Yakni mengganti hayya 'alash sholah, hayya 'alal falah dengan asholatu fir rihal.'


Praktek Pengamalan


Dari hadits-hadits di atas dapat disimpulkan, bahwa manakala hujan turun, ataupun hawa dingin maupun berangin kencang, maka lafadz adzan diucapkan tidak seperti biasanya. Yakni perkataan hayya 'alash sholah, hayya 'alal falah diganti dengan lafadz Ash sholatu fir rihal atau bisa juga shollu fir rihal (yang artinya sholatlah di tempat kalian), atau Sholluu fii buyuutikum (sholatlah di rumah-rumah kalian).


Amalan sunnah ini hampir tidak dikenal lagi. Jangankan di zaman sekarang, di zaman shahabat Ibnu Abbas saja (yakni zaman Tabiin) sunnah ini hampir tidak dikenal lagi. Ini jelas terlihat di dalam hadits di atas, dimana saat Ibnu Abbas meminta mengganti lafadz hayya 'alash sholah, hayya 'alal falah, banyak yang mengingkarinya. Pada-hal kita tahu, zaman itu masih dekat dengan zamannya Nabi saw.


Maka tidaklah mengherankan, semakin jauh dari zaman Nabi, banyak sunnah yang semakin dilupakan orang. Seandainya ada sebagian dari umat Islam yang mengamalkan warisan amal sunnah ini, maka hampir bisa dipastikan akan bermunculan penolakan, protes dan tanda tanya besar dari umat Islam di sekitarnya. Bahkan cap aliran aneh, nyleneh, dan lebih jauh lagi cap aliran sesat akan dialamatkan kepada mereka yang mau menghidupkan sunnah ini. Kalau tidak percaya, silakan mencoba.


Sunnah yang lain


Sunnah yang lain yang juga diamalkan Rasulullah saw manakala turun hujan adalah sholat jamak. Sholat jamak saat turun hujan ini lazim disebut sebagai jamak mathor, yakni sholat jamak yang dikerjakan dikarenakan turun hujan.


Diriwayatkan dari Ibu Abbas, bahwa Nabi saw mengerjakan sholat jamak Dhuhur dan Ashar, serta Maghrib dan Isya' (dijamak), bukan karena takut maupun karena safar (perjalanan). Berkata Malik (sang rawi): diberitahukan padaku bahwa yang demikian itu saat turun hujan. (Hadits riwayat Abu Dawud).


Di dalam kitab Aunul Ma'bud syarah Sunan Abu Dawud dijelaskan bahwa sholat jama' mathor saat hadhor (bukan saat safar/perjalanan) dikerjakan oleh sebagian besar ulama salaf sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar, juga diamalkan oleh Urwah, Ibnu Musayyab, Umar bin Abdul Aziz, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu Salamah dan sekalian fuqaha (ahli Fikih) Madinah. Dan demikian juga, sholat jamak mathor ini menjadi qaul (pendapat) Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal.


Sholat jamak mathor merupakan rukhshoh yang dikerjakan oleh Rasulullah saw. Maka apabila kita ambil rukhshoh tersebut, hal ini akan membuat ridha Allah swt.


Namun sebagaimana sunnah-sunnah yang lain, sholat jamak mathor inipun sudah jarang yang mau mengamalkan. Jangankan mengamalkan, mengetahuinya saja barang-kali hanya sedikit orang.


Namun dengan sedikitnya umat Islam yang mengamalkan suatu sunnah, bukan berarti sunnah itu tidak ada. Harus ada segolongan umat ini yang mau menghidupkan sunnah-sunnah yang langka dan jarang diamalkan umat. Resiko yang harus ditempuh memang berat. Perlawanan datang bukan dari orang kafir, akan tetapi justru akan datang perlawanan dari umat Islam sendiri yang tidak mau belajar dan merasa sudah tahu semuanya tentang Islam.


Memang yang menyebabkan umat semakin jauh dari sunnah adalah ketidakmauan mereka untuk membuka lagi kitab-kitab hadits dan mempelajarinya dengan benar. Amalan yang saat dikerjakan semata-mata hanya meneruskan kebiasaan yang sudah berlaku, tanpa mau menelusuri sumbernya langsung. Sehingga kebiasaan ini menjadi Sunnah dan bahkan wajib, namun justru yang sunnah dan wajib menjadi tergusur.


Hal ini bukan berarti bahwa apa yang sudah diamalkan oleh umat saat ini semuanya hanya kebiasaan atau tradisi, namun seyogyanya apa yang sudah biasa diamalkan ini ditelaah lagi dan dipelajari sumber hukumnya. Dengan demikian umat terbiasa untuk mengamalkan sesuatu dengan dasar ilmu yang jelas. Bukan hanya ikut-ikutan, ataupun sekadar mengikut apa omongan kiyainya ataupun ucapan sesepuhnya.



***
Sungguh, Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala


“...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” [Al-Baqarah: 185]


“...Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]


“... Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama ...” [Al-Hajj: 78]


wallahu'alam bishowab

Minggu, 02 Januari 2011

Jantung Fuel Cell dari Thamrin

Jantung Fuel Cell dari Thamrin
Eniya Listiani Dewi adalah perempuan pionir yang mengembangkan fuel Cell di Indonesia
Jum'at, 31 Desember 2010, 21:04 WIB
Indra Darmawan
Eniya Listiani Dewi, Pakar Fuel Cell dari BPPT (dok pribadi)
BERITA TERKAIT

* Infografik: Inovator Sains 2010
* Hobi Riset Si Pakar Radar
* Obsesi Star Trek dan Janji Johny
* Susu Anti Flu Burung dari Bogor

VIVAnews - Jarum pendek di jam dinding belum lagi menyentuh angka tiga. Namun kesibukan di pojok lantai 22 Gedung II BPPT Jakarta, sore itu, cukup menyita perhatian.

Kurir dari sebuah restoran mengantarkan puluhan kotak hidangan. Dari balik salah satu kubikal tak begitu besar, seorang perempuan berjilbab sigap menerima pesanan itu.

Dia adalah Dr Eng Eniya Listiani Dewi, peneliti madya pada Pusat Teknologi Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Perempuan itu akrab disapa Dewi. Pada pukul 16.00 WIB hari itu, dia harus membawa kotak-kotak tadi ke bus kantor, yang akan mengantarnya pulang ke Bogor.

“Makanan ini saya pesan untuk teman-teman satu bus. Mereka meminta saya mentraktir,” ujar Dewi kepada VIVAnews, saat ditemui di kantornya Rabu, 22 Desember 2010.

Dewi merayakan keberhasilannya meraih penghargaan Habibie Award 2010, pada akhir November lalu. Dewi, 36 tahun, adalah ilmuwan termuda penerima penghargaan yang diadakan pertama kali sejak 1999 itu.

Penghargaan tadi diterima atas konsistensinya mengembangkan fuel cell, sumber listrik alternatif bersih dan ramah lingkungan. “Fuel cell pilihan sangat tepat, saat concern kita saat ini mengurangi efek pemanasan global,” kata Dewi.



***



Fuel cell adalah sel elektrokimia semacam baterai atau aki, yang dapat mengkonversi sumber bahan bakar (bisa berupa hidrogen atau hidrokarbon) menjadi listrik arus searah (DC). Fuel cell bisa digunakan menyuplai listrik rumah tangga, mobil, motor, dan lain sebagainya.

Tak seperti pembangkit listrik lain yang berisik, dan menyebabkan emisi karbon, fuel cell sama sekali tak bersuara, dan limbahnya pun hanya air murni. Bila baterai dan aki hanya menyimpan listrik dan bisa kehabisan energi, fuel cell bisa terus bekerja, selama aliran bahan bakar dan oksidannya bisa terus dijaga.

Biasanya sebuah fuel cell terdiri dari katalisator, elektroda, dan membran elektrolit sebagai jantung dari fuel cell. Oleh katalisator platina, bahan bakar hidrogen akan dipisahkan menjadi ion bermuatan positif, dan elektron bermuatan negatif.

Kemudian, di anoda, ion positif akan dialirkan oleh membran elektrolit, menuju katoda. Namun, membran akan menahan elektron tetap berada di anoda. Elektron itu, nantinya akan dialirkan menyalakan berbagai jenis beban listrik



***



Eniya Listiani Dewi sedang menyusun fuel cell Menempuh studi S1 hingga S3 di Waseda University Tokyo Jepang, Dewi memilih bidang Kimia Terapan, dan mendalami studi tentang polimer dan katalis untuk fuel cell. Penemuannya terhadap katalis fuel cell baru yang menggunakan unsur Vanadium, membuatnya mendapat penghargaan Mizuno Award, dan Koukenkai Award dari universitasnya, pada 2003.

Katalis yang selama ini digunakan, katalis platina, biasanya membutuhkan dua kali tahapan untuk menghasilkan listrik, juga melalui proses sangat kompleks. Sementara, dengan katalis Vanadium, proses pembangkitan listrik menjadi lebih simpel (hanya melalui satu tahap), dengan kuantitas elektron tertransfer yang lebih banyak.

Setelah menggondol gelar Doctor of Engineering dari Waseda University, Dewi pulang ke Indonesia. Dia lalu bergabung dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pertama kali datang, Dewi sempat syok menghadapi kultur kerja yang begitu lamban. “Di sini banyak yang leha-leha. Itu bikin stress.” Padahal, ia biasa kerja cepat, terencana dengan target.

Dengan fasilitas seadanya, ia mengemban tanggung jawab melakukan riset pengembangan material polimer untuk aplikasi fuel cell. Ketiadaan lab mengharuskan Dewi melakukan berbagai percobaan kimia untuk menghasilkan polimer di meja kecil di belakang tempat duduknya.

Reaksi-reaksi kimia dalam percobaan Dewi, kerap menghasilkan bau menyengat ke seluruh ruangan sehingga mengganggu para peneliti dari kubikal kerja lain. “Huuu bauuu… bauuu…,” begitu biasanya Dewi disoraki. Akhirnya Dewi menuntut fasilitas lab kepada Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material, Marzan Iskandar (sekarangi Kepala BPPT).

Oleh bosnya, Dewi diberi ruangan lab di kompleks Puspiptek Serpong. Dari lab itulah Dewi kelak menelurkan karya lainnya, yang meraih beragam penghargaan. Dewi ditargetkan untuk bisa menggantikan berbagai komponen Fuel Cell yang selama ini musti diimpor.

Saat itu, kasing logam dan grafit separator sudah ada, tapi membran, katalis, dan elektroda (anoda dan katoda) semuanya masih diimpor. Tentu harganya pun sangat mahal. Akhirnya, Dewi berhasil membuat prototipe fuel cell dengan membran elektrolit polimer tunggal, yang semua komponennya didapat dari dalam negeri. “Kami memanfaatkan industri lokal untuk menyediakan bahan bakunya.”

Berkat kerja kerasnya ini, wanita kelahiran Magelang, 14 Juni 1974, itu mendapat penghargaan Adikara Rekayasa Engineering PII-Engineering Award pada 2006. Di tahun sama, prototipe itu lalu juga mendapat penghargaan ‘ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award’ dari Asia Federation Engineering Organization (AFEO).

Generator hidrogen & prototipe motor listrik fuel cell buatan Dewi & timnya.

Dewi juga sempat membuat prototipe motor listrik fuel cell, bahkan membuat reaktor pembuat gas hidrogen (bahan bakar fuel cell), yang dihasilkan dari berbagai bahan baku yang mudah dijumpai di sini, seperti kelapa sawit, atau singkong. Reaktor ini lalu juga meraih penghargaan Ristek-Medco Energy Award 2008, dari Kementrian Riset dan teknologi.



***



Yang paling mutakhir adalah hasil penelitian Dewi yang melahirkan sebuah produk membran polimer untuk fuel cell yang lebih efisien dari membran yang tersedia di pasaran. Produk membran itu dia namakan ThamriON. Produk itu punya efisiensi lebih baik, karena mampu mengurangi kebocoran hingga 50 persen.

Sementara dari sisi harga, Thamrion jauh lebih bersaing. Bila membran Nafion besutan perusahaan kimia ketiga terbesar dunia, DuPont, dijual sekitar US$ 1000 atau sekitar Rp 9 juta per meter persegi, ThamriOn hanya dibanderol Rp 2000 per meter persegi. Nama ThamriON sendiri merupakan gabungan dari kata ‘Thamrin’ dan ‘Ion’, dipilih untuk mengabadikan alamat kantor Dewi, Gedung BPPT yang terletak di Jl MH Thamrin Jakarta Pusat.

Membran polimer fuel cell ThamriON

Membran itu mulai dikembangkan sejak 2006, dapat dibuat dari plastik Acrylonitrile Butadiene Styrene yang bersifat isolator. Polimer itu kemudian disulfunasi dengan asam sulfat, sehingga bisa disulap menjadi bahan konduktor. Dengan menambahkan bahan tadi dengan nanopartikel, ThamriON dapat menjadi membran fuel cell yang sangat efisien.

Belakangan, metode penambahan nanopartikel itu berhasil meraih penghargaan Asia Excellence Award dari The Society of Polymer Science Japan (SPSJ) pada 2009. Tahun berikutnya, ThamriON dipatenkan, dan berhasil menyabet penghargaan Inovasi HKI 2010 Award dari Direktorat Jendral HKI.

Seiring berbagai penghargaan diraihnya, perhatian BPPT terhadap pengembangan fuel cell dan bahan bakar hidrogen pun makin besar.

Bila di tahun-tahun pertama, proyek riset dan pengembangan fuel cell masih berskala kecil, jumlah tim dan bujet dana terbatas, anggaran riset berikutnya bisa sepuluh kali lipat lebih besar. Para peneliti yang disertakan kian banyak, dan lintas bidang.

“Fuel cell memang kajian yang membutuhkan keahlian dari beragam latar belakang,” kata istri dari Wahyu Widada itu. Dari sisi manufaktur, diperlukan keahlian di bidang teknik mesin. Dari sisi kontrol dibutuhkan keahlian di bidang teknik elektro, sementara proses kimianya sendiri membutuhkan keahlian di bidang teknik kimia.

Sekarang, BPPT telah bersiap meningkatkan penelitian fuel cell dari skala kebutuhan energi rumah tangga ke fuel cell yang mampu beroperasi di suhu tinggi dengan skala yang lebih besar.



***



Sebelum mengenal fuel cell, Dewi memang punya kepedulian besar kepada lingkungan. Saat pelajaran mengarang di SMA, secara tak sadar, tema-tema yang dipilihnya berkaitan dengan lingkungan.

“Misalnya saja tema-tema bagaimana menjaga lingkungan atau mengatasi masalah sampah,” kenang ibu dari Ibrahim Muhammad, Nashita Saaliha, dan Nashira Saaliha itu. Selain itu Dewi juga menyukai kegiatan-kegiatan seperti daur ulang atau pembuatan kompos dari sampah.

Saat melanjutkan studi S3 di Jepang, Dewi mendapatkan fellowship sebagai Special Researcher of Young Scientist for the Promotion of Science dari Japan Science Technology. Di sana ia mendapatkan bimbingan dari seorang profesor yang kemudian makin membuatnya tertarik dengan fuel cell.

Dewi menyimpan harapan, suatu saat generator fuel cell bisa masuk ke rumah-rumah. Seperti halnya di Fukuoka Jepang. Di sana, listrik ribuan rumah telah disuplai oleh fuel cell. Bila aliran listrik dari perusahaan listrik di sana hanya memiliki efisiensi 30 persen, fuel cell bisa menyuplai listrik dengan efisiensi mencapai 80 persen.

Tak hanya itu, pemerintahan mereka juga memfasilitasi warganya yang ingin memanfaatkan fuel cell. Bagi yang ingin membeli generator fuel cell buatan Toshiba yang dijual seharga Rp 160 juta bisa diperoleh dengan subsidi sebesar 50 persen dari pemerintah Jepang. “Di luar negeri, mereka yang menggunakan fuel cell dipandang sebagai orang-orang berstatus sosial bergengsi,” kata Dewi.

Wajar bila kemudian ia berkeinginan menyampaikan teknologi ramah lingkungan ini ke banyak orang. Untuk itu, Dewi menciptakan sebuah kit mainan yang bisa mendemonstrasikan cara kerja fuel cell. Tentunya, semua dia lakukan untuk mewariskan bumi yang lebih baik bagi generasi mendatang.(np)

• VIVAnews

Selasa, 21 Desember 2010

cara orang india melamar pekerjaan

Dari milis sebelah:

Sedikit cerita mengenai orang2 India, krn saya dulu kuliah di jurusan sipil
yg 80 persen mahasiswanya adalah India, sehingga sempat merasa jadi orang
India:). Walaupun di hampir semua pelajaran mereka lebih banyak bertanya
pelajaran ke saya dari pada saya nanya ke mereka, umumnya mereka bisa
mendapatkan pekerjaan dalam waktu yg sangat singkat (hanya 1-2 bulan).

Setelah tamat saya sempat mencari kerjaan kemana-mana dan jadi pengangguran
lebih dari 6 bulan. Selain karena kondisi amrik yg pada saat itu masih dlm
resesi awal tahun 90-an, juga masih membawa gaya Indonesia dlm mencari
pekerjaan, yaitu ngirim resume dan menunggu:).

Akhirnya setelah hampir nyerah dan uang cuman tinggal beberapa ratus perak
(sudah hampir rencana minta bokap buat ngirim tiket pesawat), salah satu
teman India yg dulunya sering saya bantu dlm ngerjain tugas, dll., ngajak
saya utk menginap di apartemennya di Houston, dan nggak perlu khawatir ttg
biaya hidup.

Teman saya ini sewa apartemen 2 kamar dimana satu kamar dipakai buat dia,
istrinya serta 2 anaknya yg masih kecil, dan kamar satunya lagi kemudian
saya pakai berdua dg teman kuliah juga yg baru tamat dan sedang nyari kerja.
Dari situ saya udah kagum demi temannya dia rela bersempit2an dg
keluarganya.

Di sana saya di ajak ke beberapa India lain yg sudah kerja, dan apartemen
mereka penuh dg India2 yg sedang nyari kerja yg datang dari segala penjuru
amerika. Mereka yg sudah punya kerja, walaupun single, menyewa apartemen 2
kamar yg besar, sehingga bisa menampung India2 lain yg umumnya belum dikenal
utk sama2 tinggal di sana.

Hari pertama tinggal di rumah teman, saya disodorkan list nama serta nomor
telepon manager2 perusahaan2 konsultan sipil di Houston. Teman saya bilang
hanya mengirim resume tidak ada gunanya krn mereka menerima puluhan resume
sehari dan bisa2 langsung dibuang ke tong sampah:). Saya disuruh menelpon
satu2 manager2 yg ada dilist.

Dengan memaksakan diri saya coba telepon di list yg paling atas, dan
dijawab...kita lagi nggak perlu karyawan baru..dan saya cuman bisa bilang
ok...dan menutup telepon. Teman India saya geleng2 kepala mendengar cerita
saya, dan dia mulai mengajarkan bagaimana menghadapi penolakan. Saya
diajarkan utk mengatakan bahwa saya tertarik dg perusahaan anda, dan ingin
mengetahui lebih lanjut ttg perusahaan tsb. Kalau dia bilang dia nggak punya
waktu, tanyakan dimana dia makan siang dan ajak makan siang bareng sambil
ngomong ttg bisnis.

Akhirnya saya praktekan ajaran India tsb...dan benar urutan komunikasinya
kurang lebih sama dg yg disimulasikan oleh si India. Kemudian si manager
bilang dia akan telepon saya. Ternyata benar..besoknya saya diundang
langsung ke kantornya dan dapat kerja hanya hitungan 1-2 minggu di
perusahaan konsultan yg termasuk multinasional. Dari situ saya mengerti
bagaimana India2 bisa sukses walaupun berada dimana saja.

Senin, 20 Desember 2010

Penetrasi Yahudi melalui Grup Bakrie

Penetrasi Yahudi melalui Grup Bakrie

Penguasaan kaum Yahudi atas ekonomi negeri ini terus berlanjut. Kali ini melalui Grup Bakrie

Penguasaan kaum Yahudi atas perekonomian negeri ini sudah berlangsung sejak 400 tahun lalu. Semuanya, tentu saja, dimulai oleh perusahaan multinasional tempo dulu, yakni Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) atau VOC yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602, oleh� sejumlah pengusaha Yahudi Belanda. Direksi awal VOC sepenuhnya adalah orang Yahudi bergelar Coen, dan salah satunya yang paling terkenal di sini, yang pernah menjadi Gubernur Jenderal di Batavia, adalah J. Peterzoen Coen, yang dikenal sebagai "Mur Jangkung"

Dari waktu ke waktu penetrasi kaum Yahudi� di negeri ini terus terjadi, baik tersamar maupun secara kasat mata. Yang paling mutakhir adalah� masuknya Nathaniel Rothschild� (baca: Siapakah Rothschild?) melalui perusahaannya, Vallar PLC, yang baru saja bertukar guling saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), melalui PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR). Sebagaimana beritanya telah dilansir oleh detik.com, Rothschild dalam conference call-nya seperti dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (17/11/2010), menyatakan alasannya masuk ke Indonesia, "Karena aset-aset (batubara di Indonesia) secara signifikan jumlahnya lebih besar dan biayanya lebih rendah,"

Indonesia kini tercatat sebagai eksportir batubara terbesar di dunia dengan konsumen terbesar adalah dari pembangkit-pembangkit listrik. Rothschild selanjutnya ingin menjadikan perusahaan gabungannya dengan Bakrie itu sebagai pemasok terbesar dunia. Batu bara Indonesaia itu nantinya akan dipasokkan ke negeri Cina.

Pada tahun 2009, total impor batubara China mencapai 126 juta ton, atau melonjak hingga 3 kali lipat dibandingkan 2008. Selain batubara, Rothschild juga mengincar sejumlah bahan tambang berharga lain di Indonesia seperti tembaga, emas, bijih besi, timbal, molybdenum, seng. Rothschild berharap bisa mendapatkan bahan-bahan tambang itu dari anak usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yakni PT Bumi Resources Mineral (BRM).

Menurut detik.com, BNBR menandatangani perjanjian jual beli dengan Vallar Plc untuk melepaskan 5,2 miliar saham BUMI di Rp 2.500 untuk mendapatkan 90,1 juta saham baru Vallar, di mana BNBR akan menerima 50,5 juta saham baru di Vallar seharga GBP 10 per saham.

Rothschild juga mengambil alih 75% saham PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU). Harga akuisisi saham BRAU akan dilakukan pada Rp 540. PT Bukit Mutiara, anak usaha Recapital Advisors melepaskan 75% sahamnya di PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan akan memperoleh dana tunai Rp 6,596 triliun dan 24,9% saham Vallar Plc, perusahaan milik keluarga Rothschild. Usai transaksi ini, BNBR akan menjadi induk usaha Vallar Plc, sedangkan Vallar Plc akan menjadi pemegang 25% saham BUMI. Setelah transaksi, Vallar akan berganti nama menjadi Bumi Plc.

Kamis, 16 Desember 2010

Menjelajahi Ujung Genteng

Menjelajahi Ujung Genteng...
Jumat, 17 Desember 2010 | 08:25 WIB
HERAJENG GUSTIAYU
Curug Cikaso di Sukabumi, Jawa Barat.
HERAJENG GUSTIAYU
Pantai Ujung Genteng di Sukabumi, Jawa Barat.
HERAJENG GUSTIAYU
Penangkaran penyu di pantai Pangumbahan, Sukabumi, Jawa Barat.
HERAJENG GUSTIAYU
Air terjun di Curug Cikaso, Sukabumi, Jawa Barat.
TERKAIT:

* Tanah Lot Targetkan 2 Juta Wisatawan
* Yogyakarta Siapkan Paket Murah
* Wisata Budaya Samosir Perlu Promosi
* Pariwisata DIY Terbaik
* Malioboro Kembali Normal

KOMPAS.com — "Pokoknya apa pun yang terjadi, kita tujuannya have fun ya!" Pernyataan itu seakan membuka awal dari perjalanan kami menuju Ujung Genteng, Sukabumi Selatan, Jawa Barat.

Beberapa waktu yang lalu saya dan teman-teman sempat berjalan-jalan ke Ujung Genteng, sebuah kawasan pantai di selatan Sukabumi, dengan berbagai macam spot wisata tersebar di daerah ini.

Berjarak sekitar 200 kilometer dari Jakarta, membutuhkan sekitar 6 hingga 8 jam perjalanan untuk mencapai Ujung Genteng.

Rencananya kami berempat (saya, Hanny, Mitra, dan Lisa) akan ke sana selama 2 hari 2 malam, dengan transit semalam di Sukabumi, memanfaatkan libur akhir minggu sehingga tidak memerlukan izin cuti.

Sebagai budget backpacker amatiran, kami menuju Ujung Genteng dengan budget per orang Rp 200.000 (yang langsung didepositkan ke Mitra) serta beberapa print-out hasil googling di internet dan kepiawaian Mitra dalam menentukan moda dan rute transportasi.

Hari pertama, Jumat pukul 16.30. Titik pertemuan kami adalah di Percetakan Negara, di depan kantor teman-teman jalan saya nanti. Dari sana kami berempat bertolak menuju Terminal Pulo Gadung untuk naik bus AC Jakarta-Bogor menuju Sukabumi.

Sampai di Sukabumi sekitar pukul 20.00 dengan kondisi cuaca yang hujan rintik-rintik, kami melanjutkan perjalanan dengan ELF Surade-Bogor, yang serunya bisa muat sampai 18 orang! Padahal kapasitas normal cuma sekitar 12 orang! Di ELF itu kami hanya bisa tertawa-tawa menyadari posisi duduk yang sudah tidak jelas. Sepertinya kalau duduknya bisa vertikal, pasti dijabanin juga deh tuh sama si kenek.

Pukul 21.00. Akibat hujan dan kemacetan yang disebabkan oleh jam orang pulang kantor, kami tiba di Stasiun Cibadak sekitar pukul 21.00. Menginap semalam di rumah neneknya Mitra, dan disuguhi makan malam yang terasa enak sekali karena perut kosong dan tubuh yang sudah terasa lelah. Setelah bersih-bersih dan makan malam, kami langsung beristirahat menyiapkan energi untuk esok paginya.

Hari kedua, Sabtu pukul 07.30. Setelah selesai beres-beres, kami melanjutkan perjalanan dari Cibadak menggunakan angkot ke Terminal Lembur Situ, yang dilanjutkan dengan bus AC MGI Surade-Bogor, melewati Stasiun Jampang Kulon menuju Surade.

Pukul 13.00 kami sampai di Terminal Surade. Dari Surade, kami naik angkot sekali lagi menuju Ujung Genteng. Mendekati Ujung Genteng, sopir angkot yang tumpangi menawarkan untuk menyewakan angkotnya selama kami berjalan-jalan di sana. Dari hasil tawar-menawar, akhirnya kami sepakat untuk menyewa angkot dengan biaya Rp 160.000 untuk antar-jemput, cari penginapan, mengantar ke Curug Cikaso dan mengejar sunset di Pantai Cipanarukan, serta jasa tour guide kecil-kecilan.

Kami juga berkenalan dengan pengemudi angkot tersebut yang ternyata bernama Erik, dan tampaknya sempat tersinggung saat Mitra memanggilnya 'Mang'. "Jangan panggil mang dong! Panggil Erik aja," katanya.

Erik pun menjadi teman baru kami selama berjalan-jalan di Ujung Genteng. Sesampainya di Ujung Genteng, kesan pertama kami adalah walaupun daerah pantai, anginnya sejuk! Kenapa bisa gitu ya?

Di sana kami mencari penginapan dengan diantar Erik. Beberapa penginapan yang rata-rata memiliki nama dengan awalan kata "pondok" sempat kami datangi untuk membandingkan harga. Akhirnya kami mendapatkan penginapan dengan harga Rp 200.000 di Pondok Adi. Kalau harga normal Rp 350.000. Kami dapat murah berkat hasil negosiasi yang gigih.

Nama bungalonya "Cibuaya". Bungalo mini ini memiliki fasilitas 2 kamar tidur masing-masing 4 tempat tidur, 1 kamar mandi, pantry kecil, dan ruang duduk plus serambi.

Saya menyarankan untuk menginap di Pondok Adi ini, walaupun tanpa AC, kondisinya bersih dan nyaman. Kamar mandinya baru. Dengan kilat, kami menaruh barang, ganti baju untuk kotor-kotoran, lalu langsung berangkat menuju Curug Cikaso.

Curug Cikaso

Air terjun yang tersembunyi di daerah lembah yang harus melewati sungai ini terletak 16 km dari Terminal Surade. Begitu sampai di Pos Wisata Curug Cikaso, kami menyewa sebuah perahu dengan harga Rp 50.000 (normalnya Rp 60.000). Perahu ini berkapasitas 6 hingga 8 orang sehingga termasuk relatif murah apabila dibagi 8 orang. Dari ujung sungai hingga ke Curug Cikaso hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

Selama perjalanan, pandangan mata kami dimanjakan oleh pemandangan alam yang breathtaking. Apalagi setelah melihat Curug Cikaso! Airnya jernih banget! Dan kita bisa bermain air di sini. Oh ya, tips saya kalau mau melewati batu-batu sungai, harus hati-hati karena licin oleh lumutnya. Saya sendiri sempat terjatuh di sana.

Pantai Ujung Genteng

Setelah puas bermain di Curug Cikaso, kami kembali ke daerah penginapan untuk melihat sunset. Tidak lupa kami janjian dengan Erik untuk mengantar pulang ke Surade esok paginya. Sebenarnya kami juga meminta tolong Erik supaya juga mengantar kami ke Pantai Pangumbahan, tempat penangkaran penyu di Ujung Genteng, untuk malam itu.

Tapi, tak disangka-sangka, Erik tidak mau mengantar kami ke sana pada malam hari, alasannya karena dia mau malam mingguan. Katanya, "Wah buat apa cari duit mulu, Mbak. Masak waktu malam minggu juga repot cari duit."

Penangkaran Penyu Pangumbahan

Setelah puas foto-foto sunset dan makan malam di warung kecil yang tampaknya sudah tutup (mie rebus plus telur) kami mencari ojek untuk mengantar kami ke Pantai Pangumbahan.

Setelah mencoba mencari dan tidak menemukan calon ojek yang terlihat qualified, kami memutuskan bertanya kepada manajemen Pondok Adi. Di sana kami baru mengetahui bahwa tiap penginapan memiliki langganan ojeknya masing-masing. Tarifnya pergi-pulang Rp 40.000 per orang. Saran saya lebih baik meminta tolong dicarikan ojek oleh pemilik penginapan daripada mencoba mencari ojek sendiri.

Pukul 20.30 kami dijemput oleh ojek. Dari sana kami menuju Pantai Pangumbahan dengan melewati jalan-jalan kecil dan gelap. Kondisi yang gelap ini memang dibutuhkan untuk sebuah tempat penangkaran penyu. Karena katanya penyu yang akan bertelur apabila melihat cahaya akan enggan untuk bertelur dan akan kembali ke laut. Makanya kondisi jalanan memang gelap dan tidak dipasangi lampu sama sekali. Kalau bukan ojek yang terbiasa, saya kira pasti kami sudah tersesat.

Jadi, lagi-lagi saran saya, minta pesankan ojek dari penginapan Anda untuk melihat penyu bertelur.

Sekitar 5-10 menit kemudian kami sampai di tempat penangkaran tersebut. Kami melihat dan menyentuh beberapa anak penyu yang akan dilepas esok paginya (sekitar jam 5 subuh). Seingat saya, petugas di sana sempat memberi tahu bahwa untuk melihat penyu yang bertelur diperlukan kesabaran dan ketelatenan karena jadwal penyu bertelur, biasanya pukul 20.00 hingga pukul 04.00, tidak tentu.

Kami beruntung akhirnya bisa melihat penyu bertelur sekitar pukul 22.00. Kesan kami saat itu hanya satu, gelap! Mitra dan Mbak Lisa sampai menyebut, benar-benar kaya jalan di mimpi saking gelapnya!

Di tempat penangkaran terdapat enam pos penjagaan. Kebetulan penyu yang sedang bertelur itu ada di Pos 6, pos terjauh. Pasir di pantai ini amat tebal dan halus. Karena gelap, jadi saya hanya bisa mengira-ngira. Berulang kali kami tersandung oleh cekungan-cekungan pasir yang cukup dalam. Kami tertawa-tawa hingga sakit perut saat salah seorang di antara kami tersandung karena saat itu kami saling bergandengan tangan, takut terpisah! Jadinya begitu jatuh satu, jatuh semua!

Saya baru tahu, ternyata walaupun saat ingin bertelur harus memiliki kondisi pantai yang bebas cahaya, saat penyu sedang bertelur ternyata kondisi seperti apa pun tidak berpengaruh baginya. Oleh karena itu, saat penyu sedang bertelur adalah saat yang tepat untuk memotret sang ibu penyu.

Pantai yang gelap kini mulai dihujani kilatan blitz dari kamera-kamera penonton. Setelah puas memotret sang ibu penyu, kami kembali ke penginapan. Bersih-bersih kemudian beristirahat untuk melihat matahari terbit esok paginya.

Oh ya, saat itu budget kami sudah mulai menipis sehingga kami memasukkan Rp 100.000 lagi per orang sebagai deposit.

Hari ketiga, Minggu pukul 05.00, setelah shalat, dan tanpa mandi kami langsung berangkat mencari sunrise. Karena kami tidak tahu mau ke mana, jadilah kami jalan menuju matahari tanpa tahu tujuan. Ternyata setelah berjalan kaki cukup jauh, kami menemukan TPI (tempat pelelangan ikan), dan sebuah pantai yang luas dengan matahari terbitnya. Dari kejauhan terlihat banyak fotografer yang mencoba menangkap keindahan sang matahari yang baru terbangun dari tidurnya.

Pukul 07.00 kami balik ke penginapan, beres-beres, dan pukul 08.30 ternyata Erik sudah menjemput. Kami sempat ke Villa Amanda Ratu sekalian mengantar klien barunya Erik, dan kami menemukan "Tanah Lot" mini.

Sekitar 15 menit bermain di sana, kami langsung bertolak ke Surade. Erik benar-benar guide yang sangat membantu. Dari Surade, kami naik ELF Surade-Bogor menuju Terminal Degung, dari sana kami berempat berpisah. Mitra dan Mbak Lisa naik bus tujuan Pulo Gadung, saya dan Hanny naik bus tujuan Lebak Bulus.

Pukul 18.00, saya dan Hanny akhirnya tiba di Jakarta. Kami berpisah menuju rumah masing-masing. Duh senangnya liburan!

Ujung Genteng is superb! Kami tidak sempat ke beberapa spot wisata lainnya, tapi pengalaman kami benar-benar amat sangat seru dan menyenangkan. Hitung-hitung sebagai latihan untuk jadi budget backpacker yang andal! Sebagai catatan, total pengeluaran semuanya (termasuk akomodasi, transportasi, dan makan) adalah Rp 291.000 untuk 3 hari 2 malam. (Herajeng Gustiayu)

Kembalikan pasar kita

Jakarta, 15 September 2008
Kembalikan Pasar Kita
Zaim Saidi - Direktur Wakala Induk Nusantara
Perbedaan mendasar antara �distribusi� dan perdagangan adalah ada atau tidaknya prasarana perdagangan umum dan terbuka yang dapat diakses kapan pun oleh siapa pun yang hendak berdagang dengan posisi setara. Dan ini berarti tersedianya pasar-pasar terbuka secara fisik.

Titik pertemuan bagi kepentingan konsumen dan produsen, tempat transaksi jual-beli terjadi, adalah pasar. Supaya transaksi yang terjadi berlangsung secara adil maka pasar tidak boleh mengacaukan kesepakatan harga. Karenanya pasar haruslah benar-benar hanya berfungsi sebagai sarana penunjang saja, tidak boleh mempengaruhi struktur biaya. Hanya dengan demikian �pasar bebas� dapat dicapai. Sebaliknya, �pasar yang tidak bebas�, akan mengakibatkan terdistorsinya harga, yang akhirnya merugikan konsumen sebagai pihak yang harus membayar.

Pasar sebagai prasarana transaksi haruslah memiliki ujud fisik, marketplace. Dalam tradisi muamalat pasar memiliki karakteristik yang memastikan keterbukaannya. Pasar, dalam ajaran Islam, selain terbuka bagi setiap orang, tidak boleh dimiliki dan dikuasai oleh orang-orang tertentu saja. Rasulullah, sallalahu 'alayhi wa sallam menyatakan bahwa �Sunnah-ku di pasar sama dengan Sunnah-ku di masjid�. Maka, bahkan mendirikan bangunan permanen di pasar, yang mengakibatkan tertutupnya akses bagi umum, juga tidak dibenarkan apalagi menguasainya.

Para pedagang Muslim sejati, sepanjang sejarah Islam, selalu bergerak bebas, sendiri-sendiri maupun dalam kafilah-kafilah dagang (Karavan), dari satu pasar terbuka ke pasar terbuka lainnya. Dalam pengalaman sejarah Islam pasar-pasar selalu bergerak yang dicerminkan dari nama-namanya: suq al-ahad di Damaskus, suq al-thalatha di Baghdad, suq al-arba�a di Maswil, suq al-khamis di Fez dan Marakesh, dan sebagainya. Nama-nama ini mencerminkan hari-hari diselenggarakannya pasar di tempat-tempat tertentu tersebut.

Pasar-pasar ini tidak ada yang permanen. Hanya untuk keperluan pengamanan barang-barang berharga bangunan permanen dibangun sebatas sebagai gudang-gudang penyimpanan, sebagai fasilitas umum. Dengan kata lain fungsi pergudangan dibedakan dari fungsi pasar. Pasar pertama di Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW, baqi� al-Zubayr, pun sepenuhnya merupakan lapangan terbuka. Terkait dengan keberadaan pasar-pasar terbuka ini adalah institusi wakaf, yang kemungkinan bentuknya tentu saja jauh lebih luas dari sekadar pasar, yang juga menjadi elemen penting kehidupan gilda-gilda.

Di Indonesia kita tinggal merasakan sisa-sisa beroperasinya pasar-pasar Islami tersebut. Di Jawa Tengah masih dikenal nama-nama lima hari pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, yang dulunya menandakan dibukanya pasar-pasar yang �bergerak� dari satu kota ke kota lain, secara bergiliran menurut hari-hari pasaran yang ditentukan. Di wilayah DKI Jakarta dahulu beroperasi sejumlah pasar yang dinamai berdasarkan hari-hari dalam sepekan: Pasar Senin, Pasar Rebo (Rabu), Pasar Jum�at, dan Pasar Minggu, yang kini tinggal nama belaka. Kalau pun masih ada yang berfungsi sebagai pasar, seperti Pasar Senen, ia telah berubah menjadi kumpulan mal dan pasar swalayan.

Pengenaan segala bentuk retribusi dan pajak di pasar juga haram hukumnya, dengan jaminan oleh pemerintah (bukan justru memajaki para pedagang, sebagaimana dilakukan oleh negara fiskal). Di sini kita melihat bahwa pemerintahan negara kapitalis yang memajaki rakyatnya sendiri adalah sebuah otoritas yang mengingkari fungsinya sebagai pelindung masyarakat. Apalagi, akhirnya hanya sedikit saja pajak itu yang dikembalikan kepada rakyat, karena sebagian besar diserahkan sepenuhnya kepada rentenir sebagai cicilan utang.

Apa yang dalam kapitalisme disebut sebagai perdagangan, dalam bentuk mal-mal dan pasar-pasar swalayan (mini, super, sampai hyper-market), sama sekali bukan perdagangan dalam pengertian muamalat. Dalam perspektif muamalat kita dapat menyebut sistem ini sebagai distribusi monopolistik. Perhatikan saja sekeliling kita saat ini. Warung-warung dan toko-toko kelontong setiap hari semakin berkurang, digantikan hanya oleh dua jaringan mini-market, Alfamart dan Indomart, yang semakin hari semakin merajalela sampai ke kampung-kampung penduduk. Sementara pasar-pasar swalayan lain yang berskala menengah juga semakin berkurang, digantikan oleh sejumlah kecil hyper market berskala besar.

Perbedaan mendasar antara �distribusi� dan perdagangan adalah ada atau tidaknya prasarana perdagangan umum dan terbuka yang dapat diakses kapan pun oleh siapa pun yang hendak berdagang dengan posisi setara. Dan ini berarti tersedianya pasar-pasar terbuka secara fisik.

Menghilangnya pasar-pasar dari kehidupan kita memberikan akibat buruk ganda kepada masyarakat. Para konsumen harus membayar lebih mahal, untuk sesuatu yang tidak terkait langsung dengan barang yang dibelinya, sementara para pedagang � terutama pedagang kecil � semakin kehilangan kesempatan berusaha. Di layar tivi setiap hari kita menonton para pedagang yang terus-menerus dikejar dan diusir-usir oleh petugas tata tertib kota, karena dianggap berjualan secara liar. Seharusnya tanggung jawab pemerintahan kota di seluruh pelosok Indonesia adalah menyediakan marketplace itu, bagi konsumen dan pedagang kita, sebanyak-banyaknya. Masyarakat dapat berperan serta menyelenggarakan pasar ini dengan menyediakan tanah-tanah wakaf.